Setiap manusia secara fitrah mempunyai dasar kuat untuk mengenal Alloh dalam hidupnya, bahkan ditiupkan dalam dirinya sebagian dari ruh Alloh Ta’ala. Tentu sangat pantas setiap manusia untuk kembali kepada Alloh atau minimal merasakan kerinduan dalam hatinya untuk ma’rifat kepada Alloh dalam hidupnya.
Meskipun demikian, manusia tetaplah manusia sebagai tempat lupa dan salah dengan segala sifat baik dan buruk yang terdapat dalam dirinya. Bagi mereka yang dapat mengenal dirinya untuk mengikuti sifat baiknya, maka sudah pasti dia akan menjalani hidup dengan penuh berbagai sifat-sifat yang baik pula. Sebaliknya bagi mereka yang tidak mampu mengenal dirinya untuk mengikuti sifat baik dalam dirinya, tentulah hal ini dapat menjadi penghalang dalam menempuh jalan menuju ma’rifat kepada Alloh SWT.
Diantara berbagai penyakit hati manusia yang dapat menghalangi manusia untuk ma’rifat kepada Alloh, antara lain:
1. Kefasikan (الفسق)
Fasik adalah orang yang senantiasa melanggar perintah dan larangan Alloh, bergelimang dengan kemaksiatan serta senantiasa berbuat kerusakan di bumi. Makanya, sekecil apapun dosa dan maksiat yang dilakukan hendaknya agar cepat bertaubat kepada Alloh. Karena kefasikan ini akan menghalangi seseorang untuk ma’rifat kepada Alloh SWT. Sebagaimana digambarkan oleh Alloh dalam (QS. 2 : 26 – 27):
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلاً مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِينَ* الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ*
Artinya: “Sesungguhnya Alloh tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Alloh menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Alloh, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk.Dan tidak ada yang disesatkan Alloh kecuali orang-orang yang fasik. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Alloh sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Alloh (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.”
2. Kesombongan (الكبر)
Selanjutnya adalah sifat sombong yang menjadi baju Alloh, malah digunakan oleh manusia yang serba lemah. Indikasi Kesombongan ini berupa sikap dimana hati seseorang ingkar dan membantah terhadap ayat-ayat Alloh, dan mereka tidak beriman kepada Alloh SWT. Dalam Quran disebutkan (QS. 16 : 22):
إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَالَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ
Artinya: “Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.”
3. Kedzaliman (الظلم)
Kesombongan seorang manusia seringkali membawa sifat jelek yang lain, yaitu dzalim. kedzaliman merupakan sifat seseorang yang suka menganiaya, baik terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, ataupun terhadap ayat-ayat Alloh SWT. Alloh berfirman dalam (QS. 32 : 22):
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ
Artinya: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya?Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.”
4. Kedustaan (الكذب)
Kebohongan dan Kedustaan merupakan sifat yang identik dengan orang-orang munafik, tentu akan mempersulit seseorang berma’rifat kepada Alloh. Bhkan semakin kuatlah penyakit hatinya bersayang di dalamnya, seperti difirmankan oleh Alloh berfirman QS.2 : 10:
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Artinya: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”
5. Banyak melakukan perbuatan maksiat (dosa) (كثرة المعاصي)
Merupakan ciri orang-orang yang dihijab oleh Alloh, dalam (QS. 83 : 14):
كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”
6. Kejahilan/ kebodohan (الجهل)
Sifat yang tidak peduli terhadap fenomena alam dan peringatan serta ayat-ayat Alloh, Alloh berfirman (QS. 29 : 63) :
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ
Artinya: “Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya).”
7. Keragu-raguan (الإرتياب)
Keragu-raguan terhadap Alloh merupakan penghalang untuk ma’rifat kepada Alloh, dikarenakan keragu-raguan ini menjadi cirri orang-orang kafir, sebagaimana Alloh berfirman dalam (QS. 22 : 55) :
وَلاَ يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً أَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيمٍ
Artinya: “Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur'an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat.Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur'an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat.”
8. Kelalaian (الغفلة)
Kunci utamanya sebagai penghalang adalah diakibatkan lalainya hati untuk berdzikir kepada Alloh, sebagaimana difirmankan dalam (QS. 7 : 179):
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَاْلأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ آذَانٌ
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Sudah pasti para ulama sepakat kunci untuk menghilangkan itu semuanya adalah dengan mendawamkan dzikrulloh dalam hati setiap manusia. Tidak sekali-kali seorang manusia melakukan perbuatan keji dan mungkar, kecuali ketika itu hatinya sedang lupa kepada Alloh. Pantas Rosululloh saw menyuruh kepada kita untuk selalu memperbaiki iman kepada Alloh dengan selalu memperbanyak dzikrulloh.


