Rabu, 01 Februari 2012

Penghalang Dalam Mencapai Ma’rifat kepada Alloh

Posted by Yayasan Serba Bakti Suryalaya Bidang Inabah 10.17, under | 1 comment
Share |


Setiap manusia secara fitrah mempunyai dasar kuat untuk mengenal Alloh dalam hidupnya, bahkan ditiupkan dalam dirinya sebagian dari ruh Alloh Ta’ala. Tentu sangat pantas setiap manusia untuk kembali kepada Alloh atau minimal merasakan kerinduan dalam hatinya untuk ma’rifat kepada Alloh dalam hidupnya.

Meskipun demikian, manusia tetaplah manusia sebagai tempat lupa dan salah dengan segala sifat baik dan buruk yang terdapat dalam dirinya. Bagi mereka yang dapat mengenal dirinya untuk mengikuti sifat baiknya, maka sudah pasti dia akan menjalani hidup dengan penuh berbagai sifat-sifat yang baik pula. Sebaliknya bagi mereka yang tidak mampu mengenal dirinya untuk mengikuti sifat baik dalam dirinya, tentulah hal ini dapat menjadi penghalang dalam menempuh jalan menuju ma’rifat kepada Alloh SWT. 

Diantara berbagai penyakit hati manusia yang dapat menghalangi manusia untuk ma’rifat kepada Alloh, antara lain:
1.     Kefasikan (الفسق)
Fasik adalah orang yang senantiasa melanggar perintah dan larangan Alloh, bergelimang dengan kemaksiatan serta senantiasa berbuat kerusakan di bumi. Makanya, sekecil apapun dosa dan maksiat yang dilakukan hendaknya agar cepat bertaubat kepada Alloh. Karena kefasikan ini akan menghalangi seseorang untuk ma’rifat kepada Alloh SWT. Sebagaimana digambarkan oleh  Alloh dalam (QS. 2 : 26 – 27):
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلاً مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً  يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِينَ* الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ*
Artinya: “Sesungguhnya Alloh tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Alloh menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Alloh, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk.Dan tidak ada yang disesatkan Alloh kecuali orang-orang yang fasik. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Alloh sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Alloh (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.”
 2. Kesombongan (الكبر)
Selanjutnya adalah sifat sombong yang menjadi baju Alloh, malah digunakan oleh manusia yang serba lemah. Indikasi Kesombongan ini berupa sikap dimana hati seseorang ingkar dan membantah terhadap ayat-ayat Alloh, dan mereka tidak beriman kepada Alloh SWT. Dalam Quran disebutkan (QS. 16 : 22):
إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَالَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ
Artinya: “Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.”
 3. Kedzaliman (الظلم)
Kesombongan seorang manusia seringkali membawa sifat jelek yang lain, yaitu dzalim. kedzaliman merupakan sifat seseorang yang suka menganiaya, baik terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, ataupun terhadap ayat-ayat Alloh SWT. Alloh berfirman dalam (QS. 32 : 22):
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ
Artinya: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya?Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.”
4.  Kedustaan (الكذب)
Kebohongan dan Kedustaan merupakan sifat yang identik dengan orang-orang munafik, tentu akan mempersulit seseorang berma’rifat kepada Alloh. Bhkan semakin kuatlah penyakit hatinya bersayang di dalamnya, seperti difirmankan oleh Alloh berfirman QS.2 : 10:
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Artinya: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”
 5. Banyak melakukan perbuatan maksiat (dosa) (كثرة المعاصي)
Merupakan ciri orang-orang yang dihijab oleh Alloh, dalam (QS. 83 : 14):
كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya:Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”
6.  Kejahilan/ kebodohan (الجهل)
Sifat yang tidak peduli terhadap fenomena alam dan peringatan serta ayat-ayat Alloh, Alloh berfirman (QS. 29 : 63) :
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ
Artinya: “Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya).”
 7. Keragu-raguan (الإرتياب)
Keragu-raguan terhadap Alloh merupakan penghalang untuk ma’rifat kepada Alloh, dikarenakan keragu-raguan ini menjadi cirri orang-orang kafir, sebagaimana Alloh berfirman dalam (QS. 22 : 55) :
وَلاَ يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً أَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيمٍ
Artinya: “Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur'an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat.Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur'an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat.”
 8.  Kelalaian (الغفلة)
Kunci utamanya sebagai penghalang adalah diakibatkan lalainya hati untuk berdzikir kepada Alloh, sebagaimana difirmankan dalam (QS. 7 : 179):
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَاْلأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ  آذَانٌ
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Sudah pasti para ulama sepakat kunci untuk menghilangkan itu semuanya adalah dengan mendawamkan dzikrulloh dalam hati setiap manusia. Tidak sekali-kali seorang manusia melakukan perbuatan keji dan mungkar, kecuali ketika itu hatinya sedang lupa kepada Alloh. Pantas Rosululloh saw menyuruh kepada kita untuk selalu memperbaiki iman kepada Alloh dengan selalu memperbanyak dzikrulloh.

MENGGAPAI MA’RIFAT DALAM HIDUP

Posted by Yayasan Serba Bakti Suryalaya Bidang Inabah 10.14, under | No comments
Share |


Salah satu tujuan utama dalam berzikir kepada Alloh adalah untuk mencapai ma’rifat. Ma’rifat berasal dari Bahasa Arab, yaitu dari kata "’arofa-ya’rifu" yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Dalam  Tasawuf  istilah ma'rifat di sini berarti mengenal dan melihat Alloh dengan mata hati.  Mengenal Alloh merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan setiap insan. Karena dengan mengenal Alloh, seseorang akan lebih dapat mengenali dirinya sendiri. Dengan mengenal Alloh seseorang juga akan dapat memahami menegenai hakekat keberadaannya di dunia ini; untuk apa ia diciptakan, kemana arah dan tujuan hidupnya, serta tanggung jawab yang dipikulnya sebagai seorang insan di muka bumi. Dengan lebih mengenal Alloh, seseorang juga akan memiliki keyakinan bahwa ternyata hanya Alloh lah yang Maha Pencipta, Maha Penguasa, Maha Pemelihara, Maha Pengatur dan lain sebagainya. Sehingga seseorang yang mengenal Alloh, seakan-akan ia sedang berjalan pada sebuah jalan yang terang, jelas dan lurus.

Para Ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan istilah ma’rifat ini, diantaranya:
a.    Asy-Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Kadiriy mengemukakan pendapat Abuth Thayyib As-Saamiriy yang mengatakan: "Ma'rifat adalah hadirnya kebenaran Alloh dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan Nur Ilahi...".
b.    Imam Al-Qusyairy mengemukakan pendapat Abdur Rahman bin Muhammad bin Abdillah yang mengatakan: "Ma'rifat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan (dalam akal pikiran). Barangsiapa yang meningkat ma'rifatnya, maka meningkat pula ketenangan (hatinya)."

Apakah setiap orang mampu mencapai ma’rifat ? Menurut KH.ZA.Bazul Asyhab sebenarnya setiap orang sudah pernah mencapai tingkat ma’rifat tersebut. Minimal ketika seseorang dalam keadaan darurat atau dalam ketidakberdayaan, maka biasanya langsung ingat kepada Alloh; “Ya Alloh, Laa ilaaha Illalloh, Masya Alloh”, itulah yang terucap secara spontanitas dari mulutnya sebagai tanda hatinya sedang ma’rifat kepada Alloh. Masalahnya bagaimana ingatan tersebut terus kontiyu dalam kehidupan kita sampai menjelang kematian kita, maka disinilah perlunya alat dzikrulloh yang ditanamkan oleh seorang Guru mursyid agar berusaha selalu ingat kepada Alloh sepanjang waktu.

Bagaimana ciri-ciri orang yang sudah ma’rifat?  Memang tidak semua orang yang mengamalkan Tasawuf dapat sampai kepada tingkatan ma'rifat tersebut. Karena itu, menurut Dzuun Nuun Al-Mishriy  bahwa seseorang yang sudah mendapatkan ma'rifat akan  memiliki tanda-tanda tertentu, antara lain:
a. Selalu memancar cahaya ma'rifat padanya dalam segala sikap dan perilakunya. Karena itu, sikap wara' selalu ada pada dirinya.
b. Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf, belum tentu benar.
c. Tidak menginginkan nikmat Alloh yang banyak buat dirinya, karena hal itu bisa membawanya kepada perbuatan yang haram. Sehingga dapat terlihat bahwa orang itu tidak membutuhkan kehidupan yang serba mewah, kecuali tingkatan kehidupan yang hanya sekedar dapat menunjang kegiatan ibadahnya kepada Alloh SWT.  Asy-Syekh Muhammad bin Al-Fadhal mengatakan bahwa ma'rifat yang dimiliki seseorang, cukup dapat memberikan kebahagiaan batin padanya, karena merasa selalu bersama-sama dengan Tuhan-nya.

 Begitu rapatnya posisi hamba dengan Tuhan-nya ketika mencapai tingkat ma'rifat, maka ada beberapa Ulama yang melukiskannya sebagai berikut:
a. Imam Rawiim mengatakan, orang  yang sudah mencapai tingkatan ma'rifat, bagaikan ia berada di muka cermin; bila ia memandangnya, pasti ia melihat Alloh di dalamnya. Ia tidak akan melihat lagi dirinya dalam cermin, karena ia sudah larut dalam Tuhan-nya. Maka tiada lain yang dilihatnya dalam cermin, kecuali hanya Alloh SWT saja.
b. Al-Junaid Al-Bahdaadiy mengatakan, orang  yang sudah mencapai tingkatan ma'rifat, bagaikan sifat air dalam gelas, yang selalu menyerupai warna gelasnya. Maksudnya, orang yang sudah larut dalam Tuhan-nya selalu menyerupai sifat-sifat dan kehendak-Nya. Lalu dikatakannya lagi bahwa seorang yang sudah ma’rifat, selalu merasa menyesal dan tertimpa musibah bila suatu ketika ingatannya kepada Alloh terputus meskipun hanya sekejap mata saja.
c. Sahal bin Abdillah mengatakan, sebenarnya puncak ma'rifat itu adalah keadaan yang diliputi rasa kekagumam dan keheranan ketika seorang  bertatapan dengan Tuhan-nya, sehingga keadaan itu membawa kepada kelupaan dirinya.

            Seseorang yang sudah ma’rifat akan mengenal al-Haq Alloh melalui nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya, kemudian Alloh membenarkan langkah-langkahnya, lalu ia terjaga dari akhlak yang jelek dan bahayanya. Kemudian ia berlama-lama dalam usahanya, dan lama dalam i’tikafnya dan munajat kepada-Nya dalam sirr, sehingga ia menjadi seorang muhaddis (penyambung lidah) dari Tuhan dengan  mengetahui rahasia-rahasia-Nya dalam hal ketentuan takdir Tuhan sehingga dinamailah ia seorang ‘arif. Minimal orang tersebut benar-benar selalu dzikrulloh dalam hatinya, sehingga dia akan mempunyai akhlakul karimah, dan membuktikan kebaikan yang timbul dari kesucian, seperti:
  1. Terhadap orang-orang yang lebih tinggi daripada kita, baik dlohir maupun batin, harus kita hormati, begitulah seharusnya hidup rukun dan saling menghargai.
  2. Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segala-galanya, jangan sampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap rendah hati, bergotong royong dalam melaksanakan perintah agama maupun negara, jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaan, kalau-kalau kita terkena firman-Nya “Adzabun Alim”, yang berarti duka-nestapa untuk selama-lamanya dari dunia sampai dengan akhirat (badan payah hati susah).
  3. Terhadap oarang-orang yang keadaannya di bawah kita, janganlah hendak menghinakannya atau berbuat tidak senonoh, bersikap angkuh, sebaliknya harus belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya, jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat hatinya, sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasehat yahng lemah-lembut yang akan memberi keinsyafan dalam menginjak jalan kebaikan.
  4. Terhadap fakir-miskin, harus kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa hati kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah yang senang, karena mereka jadi fakir-miskin itu bukannya kehendak sendiri, namun itulah kodrat Tuhan.

MENGHIASI HIDUP DENGAN KHUSYU DAN TAWADHU

Posted by Yayasan Serba Bakti Suryalaya Bidang Inabah 10.10, under | No comments
Share |


Islam sebagai pedoman hidup manusia yang menjamin kebahagiaan dan kebaikan di dunia dan di akherat sangat menjamin kebaikan akhlak setiap pemeluknya, bahkan dikatagorikan seorang muslim yang baik adalah yang paling baik akhlaknya sebagaimana dicontohkan oleh Rosululloh saw sendiri.

Kebaikan akhlak ini sangat berhubungan erat dengan kualitas keimanan seseorang kepada Alloh, sehingga ketika iman seseorang kualitasnya prima maka primalah akhlaknya. Tidak ada kebaikan akhlak yang tidak didasari dengan kualitas keimanan kepada Alloh, selain kemunafikan yang dibungkus kebaikan saja. 

Contoh yang kongkrit sholat yang menjadi tiang agama dan dijadikan standar kebaikan akhlak seseorang; jika sholatnya baik maka baiklah seluruh amalnya, sebaliknya jika sholatnya tidak baik maka tidak baik pula seluruh amalannya. Sudah pasti sholat berkualitas ini harus dilandasi kekhusyuan dalam hatinya, sehingga sholatnya mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Fenomena inilah yang terjadi dalam masyarakat muslim sekarang, yang selalu melaksanakan sholat tetapi perbuatan keji dan mungkar terus jalan dalam kehidupannya. Bukan sholatnya yang salah, tetapi dia tidak mengerjakan sholatnya dengan khusyu kepada Alloh. Pantas Hudzaifah pernah mengatakan “Permulaan sesuatu yang akan hilang dari agama adalah khusyu, khusyu dalam sholat adalah salah satu ciri yang dimiliki oleh para penempuh jalan Allah (salik)”. Padahal mereka termasuk orang-orang yang mendapat kemenangan disisi Alloh, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Muminun: 1-2, “Sungguh telah mendapat kemenangan bagi orang-orang yang beriman yang khusyu dalam sholatnya”.

Khusyu letaknya di dalam hati, dengan indikasi tenangnya hati dihadapan Alloh, sehingga syaitanpun tidak mampu mendekatinya. Apabila seseorang khusyu dalam sholatnya, maka dia akan tetap menerima dan lapang dada jika dibenci, disakiti, atau diusir. Diapun mampu memadamkan gejolak syahwat, menetralisir asap jantungnya, dan memberikan penerangan hati agar gejolak syahwatnya padam dan hatinya menjadi hidup dengan dzikrulloh.

Dalam kontek kehidupan sosial, orang yang khusyu akan terus tawadhu karena takut kepada Alloh. Sehingga dikatakan oleh Fudhail bin Iyad, “Orang yang selalu mengadu kepada Alloh adalah orang yang khusyu dan tawadhu. Sedangkan orang yang selalu mengadu kepada hakim (pemerintah) adalah orang yang tinggi hati dan sombong”.

Ditegaskan oleh Rosululloh SAW “Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun seberat biji, dan tidak akan masuk neraka orang yang di dalam hatinya keimanan walaupun seberat biji timbangannya”. Dalam riwayat lain dikatakan “Sesungguhnya Alloh adalah baik dan mencintai sesuatu yang baik. Sedangkan sombong adalah menolak yang benar dan merendahkan orang lain” (Riwayat Abdullah bin Mas’ud).

Maka Rosululloh memberi contoh kepada kita, sehingga kakinya bengkak-bengkak karena banyak sholat, sampai suatu saat ditegur istrinya Siti Aisyah “Wahai Rosululloh, bukankan tuan sudah diampuni dosa dan dijamin masuk syurga, tidak perlu sampai bengkak”. Apa jawaban Rosul SAW manusia yang paling mulia? “Tidaklah aku bersyukur atas segala nikmat yang telah Alloh berikan kepadaku?”. Dan sebagaimana dimaklumi bahwa sholat adalah media utama sebagai waktu untuk audensi langsung antara makhluk dengan sang Khaliq.

Ketauladanan Rosul pun sudah terbukti dalam sejarah hidupnya. Rosul tidak segan-segan untuk menegur para sahabatnya yang sakit, mengantarkan jenazah, menunggangi kedelai, sering memenuhi undangan budak, memberi makanan kepada untanya, menyapu rumah, menjahit sandal, menambal pakaiannya yang sobek, mengembala kambing, dan makan bersama para pelayannya.

Rosululloh tidak merasa malu membawa barang belanjaannya dari pasar ke rumah, selalu bersalaman baik kepada orang kaya maupun orang miskin, sering mengawali memberi salam, tidak meremehkan pemberikan jika diundang, meskipun hanya sepotong roti.

Budi utamanya sangat terpuji dan baik, jika memberi makanan kepada orang lain, berkarakter baik, pandai bergaul, muka berseri-seri, tersenyum tanpa tertawa, berduka cita tanpa masam, rendah diri tanpa merasa hina, dermawan tanpa berlebihan, lemah lembut dan kasih sayang, tidak pernah merasa kenyang dan tidak pernah mengulurkan tangan terhadap makanan meskipun sangat ingin. Ringkasnya Rosululloh adalah sosok manusia yang paling sempurna di jagat raya, dimana cerminan akhlaknya kata Siti Aisyah adalah Al-Qur’an.

Uswah hasanah tersebut diikuti oleh para sahabatnya. Dalam satu riwayat diceritakan bahwa Zaid bin Tsabit mengendarai hewan tunggangan. Tiba-tiba Ibnu Abbas datang mendekatinya untuk memperoleh pengajaran seraya memegang kendali hewan tunggangannya dengan sikap menunduk. Zaid merasa tidak enak, kemudian melarangnya “Lepaskan wahai putra paman Rosululloh”, namun Ibnu Abbas tidak mau memperdulikannya. Dia tetap memegangnya seraya mengatakan “Seperti inilah kamu diperintah untuk berbuat baik (sopan dan tawadhu) kepada ulama kamu”. Rupanya Zaid cukup cerdik, dia segera merebut tangan Ibnu Abbas, menarik kemudian menciumnya sambil mengatakan “Seperti inilah kami diperintahkan untuk berbuat baik kepada keluarga Rosululloh SAW”.

Kata Urwah bin Zubair “Saya pernah melihat khalifah Umar bin Khatab ra sedang memanggul air-air di atas pundaknya terdapat sebuah qirbah (tempat air dari kulit)”, saya berkata “Wahai amirul mu’minin tidak seharusnya tuan berbuat seperti ini!”, Dia menjawab, “Ketika para utusan (delegasi) datang kepadaku, mereka mendengarkan dan tunduk kepadaku, sehingga kesombongan terkadang muncul dalam diriku. Oleh karena itu, saya harus menghilangkannya”. Kemudian dia melanjutkan pekerjaannya dan membawa qirbah itu ke ruang dapur dan menuangkannya ke dalam wadah air sampai penuh.

Dalam suatu riwayat Abu Dzar Al-Ghifari dan Bilal Al-Habsyi pernah saling berbantah-bantahan. Abu Dzar mencela Bilal dengan kata-katan “hitam”, lalu Bilal mengadu kepada Rosululloh SAW, kemudian beliau memanggil Abu Dzar dan menegurnya, “Wahai Abu Dzar, di dalam hatimu masih terdapat sifat sombong, seperti kesombongan orang-orang jahiliyah”. Setelah itu Abu Dzar menimpakan beban kepada dirinya sendiri. Dia bersumpah untuk tidak mengangkat kepalanya sebelum pipinya diinjak oleh Bilal dengan telapak kakinya. Dan Abu Dzar tidak mau mengangkat kepalanya sehingga Bilal melaksanakan apa yang diinginkannya.

Itulah gambaran para penempuh jalan Alloh dalam hidupnya, untuk dicontoh oleh kita bersama yang selalu khusyu dalam sholatnya. Untuk itu mari belajar sholat dengan khusyu, yaitu ketika sholat hatinyapun dibarengi dengan selalu dzikrulloh, ingat selalu kepada Alloh.



Kategori

Kategori