Jumat, 22 Juli 2011

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK PALING RELIGIUS

Posted by Yayasan Serba Bakti Suryalaya Bidang Inabah 14.10, under | No comments
Share |

Salah satu realitas manusia sepanjang sejarah yang tidak bisa dihapuskan adalah bahwa manusia mempunyai rasa keberagamaan (religiousity) dalam dirinya atau kebutuhan dasar kerohanian (basic spiritual needs)., dalam arti manusia adalah mahkluk beragama dan selalu merindukan untuk beragama sebagai media berhubungan dengan Sang Penciptanya. Bahkan para ahli sepakat bahwa agama sangat berpengaruh kuat terhadap tabiat personal dan sosial manusia dalam hidupnya, dan kehidupan manusia tidak bisa lepas dari agama untuk mencapai kebahagiaan hidupnya.
Apa  religiusitas itu? Secara bahasa, kata religiusitas adalah kata kerja yang berasal dari kata benda religion. Religi itu sendiri berasal dari kata re dan ligare artinya menghubungkan kembali yang telah putus, yaitu menghubungkan kembali tali hubungan antara Tuhan dan manusia yang telah terputus oleh dosa-dosanya. Gazalba (1985) mengartikan kata religi berasal dari bahasa latin religio yang berasal dari akar kata religare yang berarti mengikat. Maksudnya adalah ikatan manusia dengan suatu tenaga yaitu tenaga gaib yang kudus. Religi adalah kecenderungan rohani manusia untuk berhubungan dengan alam semesta, nilai yang meliputi segalanya, makna yang terakhir, dan hakekat dari semuanya.
Islam sebagai sebuah sistem yang menyeluruh, mendorong pemeluknya untuk beragama secara menyeluruh (totalitas) (QS 2: 208); baik dalam berpikir, bersikap, merasa maupun bertindak, harus didasarkan pada prinsip penyerahan diri dan pengabdian secara total kepada Alloh, kapan, dimana dan dalam keadaan bagaimanapun. Karena itu, keberagamaan dalam Islam bukan hanya sekedar diwujudkan dalam bentuk ibadah ritual saja, tapi juga dalam aktivitas-aktivitas lain dalam hidup layaknya manusia sebagai makhluk sosial. Bahkan dalam setiap sholat seorang muslim selalu berjanji dalam sholatnya: “ Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya dipersembahkan kepada Alloh Tuhan semesta alam”. Berarti adanya penyerahan diri secara totalitas untuk selalu beribadah kepada Alloh, sehingga apapun yang dikerjakan seorang manusia dalam hidupnya wajib berlandaskan niat untuk beribadah kepada Alloh swt.
Permasalahanpun timbul “ mengapa sering terjadi orang yang pemahaman keberagamaannya bagus, bahkan sering memberikan pencerahan dan penerangan agama kepada orang lain tapi perilakunya menyimpang?”. Sering terdengar dalam berita seorang yang pendidikan agamanya cukup bagus dan bahkan berasal dari keluarga ulama tapi melakukan korupsi atau manipulasi. Ahli ibadah yang setiap hari pergi ke mesjid tapi perilakunya tidak mencerminkan keagungan dan keindahan ibadah yang dilakukannya, dan berbagai contoh lain dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa ini bisa terjadi?
Kepribadian seorang manusia sangat komplek dan tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja, melainkan berbagai factor akan mempengaruhi tingkah lakunya. Sebagai makhluk yang dinamis bisa jadi ketaatan beragama yang diperlihatkan dalam kesehariannya tidak memenuhi unsur ibadah sebagaimana disyariatkan Islam, sehingga mereka hanya taat dalam hal ritual saja tanpa penghayatan makna yang mendalam dibalik semua ajaran agama yang dilakukannya. Ditambah dengan berbagai pengaruh lingkungan sosial, media cetak atau elektronik yang merangsang manusia untuk mengumbar nafsu hewaninya, atau mungkin akibat kelemahan legal formal berupa aturan  hukum yang kurang berpihak kepada kebaikan.
Indikasi ini bisa dilihat ketika ketahanan diri seseorang dalam menghadapi realitas kehidupan kurang kuat, sehingga menjadi stress ditambah ada kesempatan yang mempermudah seseorang melakukan berbagai penyimpangan perilaku, maka akan terjadilah berbagai perbuatan dosa yang dicegah oleh agama. Pembuktian ilmiah sebagaimana dilakukan Clinebell (1980) mengatakan bahwa pada setiap diri manusia terdapat kebutuhan dasar kerohanian (basic spiritual needs). Dari penelitiannya ditemukan bahwa kebutuhan ini jika tidak terpenuhi, mereka mencari kebutuhan dasar tersebut dan salah satu bentuk pelampiasannya malah dengan jalan menyalahgunakan NAPZA. (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya). Penelitian lain dilakukan Larson dkk (1990) menemukan bahwa remaja yang komitmen agamanya lemah, mempunyai resiko empat kali lebih besar untuk menyalahgunakan NAPZA dibanding para remaja yang kuat komitmen agamanya. Bukti ini sesuai dengan  yang dikemukakan Dadang Hawari (1990) dan Juwana (1994) bahwa ketaatan beribadah pada kelompok penyalahguna NAPZA jauh lebih rendah dibandingkan dengan kelompok bukan penyalahguna NAPZA, dan perbedaan ini sangat signifikan. Seorang ahli sosiologi yaitu Hirschi & Gottfretson (dalam Blackburn, 1993) membenarkan pandangan bahwa tidak ada alasan khusus yang diperlukan untuk menjelaskan terjadinya suatu kejahatan karena kecenderungan adanya dorongan manusia yang tidak dapat ditunda untuk mencari atau mencapai kenikmatan dan menghindari sesuatu yang menyakitkan. 
Disinilah fungsi kontrol diri sebagai wawasan melekat, berupa kekuatan iman yang tertancap kuat dalam hati manusia. Adalah benar bahwa setiap manusia mempunyai nafsu seperti disinyalir dalam salah satu ayat al-Qur’an, ”Fa`alhamahâ fujûrahâ wa taqwâhâ” . tapi permasalahannya adalah apakah ia bisa mengontrol fujûr atau potensi buruknya itu atau tidak. Ini bukan hal yang mudah melainkan perlu latihan dan pembelajaran yang lama dan memerlukan waktu panjang sehingga menjadi terpolakan dan mendarah daging dalam karakter dan pribadinya. Maka pendidikan dan pembinaan serta  peran keluarga terutama dalam menanamkan ajaran agama sejak usia dini sangat penting. Dasar ajaran agama yang ditanamkan sedini mungkin akan melahirkan sebuah komitmen keberagamaan yang didasari oleh kesadaran bahwa agama memang penting dan sangat diperlukan serta bermanfaat bagi kebahagiaan dirinya. Sehingga akhirnya proses pembiasaan dalam melaksanakan agama yang ditanam dalam waktu yang lama ini menjadi sebuah keterampilan yang mendarah daging dalam hidupnya. Sebagaimana diisyaratkan Rosululloh saw: “ Suruhlah anakmu yang berusia tujuh tahun untuk shalat, dan jika usia sepuluh tahun tidak mau mengerjakan shalat, maka pukullah ”. Proses pendidikan dengan membiasakan anak melaksanakan sholat sejak kecil, merupakan suatu keharusan agar ketika menginjak dewasa dia terbiasa melakukannya.
Apa yang seharusnya dipersiapkan oleh setiap keluarga muslim bagi kebaikan anak-anaknya di masa mendatang?  Diantara upaya yang harus dilakukan oleh setiap keluarga muslim adalah:
Pertama, bentengi diri dengan keimanan dan ketaqwaan sehingga kita merasa dekat dan merasa diawasi oleh Alloh Swt. Bahkan Rosululloh saw menyuruh untuk selalu memperbaharui iman kita dengan selalu memperbanyak dzikrulloh. Mengapa? Karena dengan selalu ingat kepada Alloh (Dzikrullah), hati sebagai raja atau kepala nakhoda hidup manusia akan selalu mengontrol dari perbuatan maksiat setiap saat dalam seluruh aspek kehidupannya. Jika baik hatinya, maka akan selalu baiklah seluruh perbuatannya, sebaliknya jika hatinya jelek (tidak ingat kepada Alloh) maka akan jeleklah seluruh perbuatannya. Dan sesorang berani melakukan suatu perbuatan dosa itu akibat hatinya lupa kepada Alloh.
Kedua, pupuk dan kembangkan nilai-nilai keagamaan dalam keluarga sebagai lingkungan terdekat yang membentuk dan mempengaruhi pribadi dan budi pekerti seseorang. Berbagai kasus penyalahgunaan NAPZA sering dikaitkan dengan masalah kehidupan beragama dalam keluarga dan ketaatannya dalam menjalankan perintah agama. Semakin baik kehidupan beragama dan ketaatannya dalam melaksanakan ibadah dalam suatu keluarga, maka semakin baiklah pertahanan mental spiritual anggota keluarga tersebut walaupun menghadapi berbagai permasalahan pelik. Pendidikan agama sejak dini akan memperkuat komitmen agama seorang anak kelak ketika menginjak remaja dan dewasa, sehingga mampu memperkecil resiko terkena penyalahgunaan NAPZA. Ini penting sekali diketahui dan dilaksanakan oleh setiap keluarga muslim, baik bagi upaya prevensi, terapi, maupun rehabilitasi pada penyalahgunaan NAPZA, dimana pendekatan keagamaan merupakan suatu kewajiban dan harus diikutsertakan didalamnya.
Ketiga, Ciptakan lingkungan keluarga yang harmonis berlandaskan agama serta selektif dalam memilih teman atau lingkungan. Kalau kita tidak bisa merubah lingkungan yang bisa merusak perilaku kita maka lebih baik menghindarinya. Bahkan perlu menciptakan lingkungan keluarga yang baik dan harmonis dilandasi ajaran agama, sehingga anak betah di rumah dan komitmen melaksanakan agamanya. Salah satu aspek psiko-sosial yang merupakan factor kontribusi pada terjadinya penyalahgunaan NAPZA, adalah faktor keluarga berupa: keutuhan keluarga,  kesibukan keluarga,dan hubungan antar pribadi anggota keluarga. Kondisi keluarga yang tidak baik (disfungsi keluarga) merupakan faktor kontribusi utama terjadinya penyalahgunaan NAPZA, seperti akibat: kematian keluarga (broken home by death), kedua orang-tua bercerai atau pisah (broken home by divorce/ separation), hubungan orang-tua (ayah dan ibu) tidak harmonis (poor marriage), hubungan antara orang-tua dan anak tidak baik (poor parent dan child relationship), suasana rumah tangga yang tegang (high tension), suasana rumah tangga tanpa kehangatan (low warmth), orang-tua sibuk dan jarang di rumah (absence), atau diakibatkan oleh orang-tua yang mempunyai kelainan kepribadian dalam hidupnya (personality disorder).                                              Tidak kalah pentingya adalah pengaruh teman kelompok sebaya atau peer group sebagai pencetus dan pendorong penyalahgunaan NAPZA, dimana dalam banyak kasus justru perkenalan pertama dengan NAPZA ini adalah dari mereka. Pengaruh teman kelompok sebaya ini dapat menciptakan keterikatan dan kebersamaan, sehingga yang bersangkutan sukar melepaskan diri, baik diakibatkan ketidakmampuan untuk berinteraksi maupun adanya intimidasi dari temannya.. Pengaruh teman kelompok ini tidak hanya pada saat perkenalan pertama dengan NAPZA, melainkan dapat menyebabkan  seseorang tetap ketergantungan dan kekambuhan setiap waktu dimanapun berada.
    Di Inabah seorang yang ketergantungan kepada NAPZA dianggap orang yang telah melakukan dosa, solusinya adalah orang itu diajak bertaubat dari dosanya dengan selalu membersihkan dirinya dan berusaha dikembalikan hatinya kepada Alloh untuk meningkatkan kualitas jiwa dengan selalu berdzikir kepada-Nya. Dzikrulloh atau ta'alluq pada Tuhan, yaitu berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran  hati  dan  pikiran  kita  kepada  Alloh. Di manapun seorang mukmin berada, dia tidak boleh lepas dari berdzikir   untuk   Tuhannya  (QS.  3:191).  Dari  dzikir  ini meningkat sampai maqam takhalluq, yaitu,  secara  sadar meniru  sifat-sifat  Tuhan  sehingga  seorang  mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. Proses ini bisa  juga disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya menyandarkan Hadits Nabi yang berbunyi, "Takhallaqu bi akhlaq-i Alloh.". Selanjutnya   menuju tahaqquq. yaitu suatu  kemampuan  untuk mengaktualisasikan kesadaran  dan  kapasitas  dirinya  sebagai seorang  mukmin  yang  dirinya  sudah "didominasi" sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia.  Maqam  tahaqquq  ini  sejalan dengan Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi  yang  menyatakan  bahwa  bagi  seorang mukmin  yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan intimnya  dengan  Tuhan  maka  Tuhan  akan  melihat  kedekatan hamba-Nya, bahkan mampu melihat dengan mata-Nya, mendengar dengan telinga-Nya, dan berbuat dengan tangan-Nya, dalam arti berakhlakul karimah; baik kepada Alloh, baik kepada semua makhluk Alloh, serta mampu menjadi rahmatan lil-alamin.

0 komentar:

Kategori

Kategori