Jumat, 05 Agustus 2011

MEMAKNAI QOLBU DALAM KEHIDUPAN

Posted by Yayasan Serba Bakti Suryalaya Bidang Inabah 15.37, under | 1 comment
Share |


Qolbu (al-qolb) atau orang Indonesia menyebutnya hati merupakan salah satu fitrah nafsani. Banyak sekali pendapat para ahli tentang makna qolbu tersebut, sebanyak ilmu pengetahuan manusia itu sendiri. Diantara pendapat yang terkenal adalah karya Imam Al-Ghozali dalam ”Ihya Ulumuddin”, yang membahas struktur keruhanian manusia dengan unsur-unsurnya secara lengkap mencakup: qolbu, ruh, nafsu dan akal.
Menurut Imam Al-Ghozali qolbu mempunyai dua arti yakni fisik dan metafisik (psikis). Qolbu dalam artian fisik berupa segumpal daging berbentuk lonjong terletak dalam rongga dada sebelah kiri. Sedangkan dalam arti metafisik dinyatakan sebagai karunia Allah  Swt yang halus (lathifah), bersifat ruhaniah dan ketuhanan (rabbaniah), yang ada hubungannya dengan jantung. Qalbu yang halus dan indah inilah hakekat kemanusiaan yang mengenal dan mengetahui segalanya, serta menjadi sasaran perintah, cela, hukuman dan tuntutan Tuhan.
Dalam Islam eksistensi qolbu diposisikan pada tempat yang tinggi dalam sruktur kepribadian manusia, hal itu bisa dilihat dari banyaknya ayat-ayat Al-quran yang menyinggung keberadaan potensi qolbu sebagai kekuatan supranatural yang menggerakkan fungsi-fungsi kefitrahan manusia dalam berbuat dan bertindak untuk menjalankan berbagai aktivitas kehidupan. Mengingat sangat vitalnya posisi qolbu dalam struktur kehidupan manusia, maka eksistensinya sebagai fitrah nafsani, memegang peranan kunci bagi kebahagian manusia, baik di dunia maupun di akherat. Bahkan Rosululloh menjadikannya standar; jika bagus itu qolbu, baguslah seluruh perbuatan manusia. Sebaliknya jika jelek itu qolbu, maka jeleklah seluruh perbuatan manusia.
Apa makna Qolbu ? Kata qolb mempunyai makna membalik dikarenakan seringkali ia membolak balik ; kadangkala senang, kadangkala susah, suatu saat setuju dan pada saat yang lain menolak, sehingga amat berpotensi untuk tidak konsisten dalam realitasnya. Para sufi memandang bahwa qolbu bermakna sesuatu yang bersifat halus dan rabbani yang mampu mencapai hakekat sesuatu; mampu memperoleh pengetahuan (al-ma’rifat) melalui daya cinta rasa (al-zawqiyat), memperoleh puncak pengetahuan yang menghasilkan ilham (bisikan suci dari Allah Swt) dan Kasyf (terbukanya dinding yang menghalangi qolbu).
Sebagai fitrah nafsani yang mempunyai kekuatan luar biasa (super natural) sebagaimana disebutkan diatas, maka potensi qolbu ini harus selalu diarahkan agar berjalan sesuai dengan fitrahnya, berjalan secara efektif dan mempunyai makna dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan potensinya ini mempunyai peluang untuk diselewengkan (lari dari fitrah) jika yang bersangkutan tidak mendengarkan suara hati yang lahir dari hati nurani terdalam. Ditegaskan oleh Alloh bahwa manusia yang tidak mampu menggunakan qolbunya sesuai fitrah akan sesat  bahkan  lebih sesat daripada binatang sekalipun.
Dari qolbu lahirlah karakter, kepribadian dan watak seseorang. Qolbu adalah raja yang mampu menjadi penyebab kesuksesan atau hancurnya sebuah keluarga bahkan Negara. Mengapa? Sebagai raja, qolbu dapat membuat manusia melakukan apa saja, baik atau buruk, bergantung pada kondisi hati itu. Jadi dapat dipahami semua aktivitas yang dilakukan manusia pada dasarnya bergantung pada qolbu, karena qolbu yang bersihlah yang bisa selamat dan berjalan sesuai dengan fitrah yang telah digariskan oleh Allih Swt. Keberadaan qolbu juga penentu dalam meraih kehidupan yang bermakna, orang yang hatinya tertata dengan baik maka ia akan terpelihara dan terawat sebaik-baiknya. Qalbu yang senantiasa terpelihara, serta terawat dengan sebaik-baiknya, pemiliknya akan senantiasa merasakan lapang, tenang, tentram, sejuk dan indah di dunia ini. Mereka tak pernah merasa gelisah, tak pernah bermuram durja, tak pernah gundah gelana. Kemanapun pergi dan dimanapun berada, ia senantiasa mengendalikan hatinya. Dirinya senantiasa berada dalam kondisi damai dan mendamaikan, tenang dan menenangkan, tentram dan menentramkan. Dirinya mampu memancarkan  hikmah yang mampu memberi teladan-teladan tinggi kepada orang-orang yang disekelilingnya.
Era global dewasa ini membawa dampak dekadensi global bagi siapa saja yang tidak mampu mensiasatinya. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya muncul krisis moral, buta hati, tidak toleran terhadap sesama, mengutamakan kepentingan pribadi daripada mendahulukan kepentingan orang banyak dan berbagai peristiwa atau kejadian yang bertentangan dengan tuntunan agama Islam lainnya. Meskipun mereka memiliki pendidikan tinggi dan berbagai gelar di depan dan dibelakang nama yang sangat panjang, namun mereka tidak mampu memaknai  dn menggunakan qolbunya dalam kehidupan ini secara baik. Mereka tidak jauh berbeda ibarat sebuah mesin yang menjalani hidup tanpa makna dan tanpa kemampuan spiritual untuk mengenal Sang Penciptanya, mereka hanya menjalani kehidupan ini sekedar untuk bertahan hidup tanpa menggantungkan diri kepada Yang Maha Hidup.
Sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang yang ingin kembali kepada Alloh dan yang ingin menggantungkan diri kepada Yang Maha Hidup untuk selalu membersihkan qolbunya dengan dzikrulloh dan berbagai amaliah serta riyadhoh, agar selalu bersih, tajam dan bercahaya sehingga mampu memahami kebenaran-kebenaran atau pengetahuan yang bersifat hakiki. Jika qolbu dalam diri manusia bersih dan bercahaya serta berkembang lebih baik dan lebih optimal, maka kehidupan manusiapun akan lebih baik dan optimal sehingga dapat mewakili Alloh sebagai kholifah bahkan menjadi rahmat (karunia kebaikan) bagi sekalian alam..
Qolbu merupakan potensi ruhaniah yang mempunyai kekuatan supranatural (luar biasa) pada diri manusia, ia mampu mengembalikan seorang manusia kepada Penciptanya, memberinya rasa cinta (mahabbah) serta pemahaman yang sangat kukuh terhadap tauhid (menjadikan Allah Swt satu-satu ilahi, tumpuan dan tujuan tempat seluruh tindakan diarahkan kepadanya, Allah Swt yang dimaksud dan kerindhoan serta ma’rifat kepada-Nya yang diminta), mampu memberikan kesadaran dan keyakinan yang membekas bahwa Allah Swt hadir dan menyaksikan seluruh perbuatan bahkan bisikan dalam diri, dalam arti mampu mengembalikan manusia kepada fitrahnya.
Maka ketika seseorang belum mampu untuk mengfungsikan qolbunya sesuai dengan fitrah, tentu harus berusaha ke arah itu semaksimal mungkin, kalaulah belum mampu sendiri carilah orang yang mampu membantu mengungsikannya sesuai dengan fitrah. Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang merasakan kesakitan atau diberi musibah sakit terkena suatu penyakit, masih berusaha sekuat tenaga dan kemampuan pergi ke dokter untuk menyembuhkannya. Sayangnya banyak orang yang merasakan sakit qolbunya belum menyadari bahwa dia sakit, walaupun berbagai indikasi sakitnya qolbu terasa dalam hidupnya, apalagi ada pikiran untuk pergi ke dokter qolbu untuk mengobatinya.

1 komentar:

izin copy kang,,, mudah2an bsa membantu.

Kategori

Kategori